Senin, November 03, 2003

Third day on November 2003, still raining here in Jogja but i love it.
Last week i just spent my time evening 'til night with senja and last saturday i met again with my favorite lecturer, Mr. Danang.
Indonesian please! ok ok *tadaa*
--
Pak Danang, beliau adalah dosen fisikaku yang selalu memberikan motivasi pada anak didiknya untuk mengembangkan diri.
Beliau cerita banyak mengenai proyek-proyeknya misal: sepeda listrik, mobil listrik, proyek tenaga, dll.
Juga tentang Malaysia, China, Taiwan, Jepang, dll yang sudah mengembangkan teknologi lebih dari kita, Indonesia, terutama teknologi bahan.
Kita bangsa Indonesia sebenarnya bisa mengembangkan teknologi ini tetapi kenapa kita selalu terlambat.
Banyak hal dipelajari orang-orang Jepang, misal keramik bahkan resleting, dan dari penelitian terhadap keramik dan resleting muncul profesor dalam bidang tsb yang mungkin kalo di Indonesia jarang atau mungkin tidak ada. Mana mau sih mempelajari hal-hal kecil seperti ini? hehe
Padahal jika kita pikir bahwa keramik ini dapat menjadi bahan dari resistor misalnya, dan resleting digunakan oleh hampir semua orang di dunia.
Dengan melihat dan mungkin menghitung berapa banyak yang kita dapat dari hal-hal kecil seperti ini, hampir tidak pernah terpikirkan oleh kita.
Banyak orang berpikiran masalah materi, okelah mari ngomongin materi, berapa banyak keuntungan yang kita peroleh dari resleting dari 200 juta penduduk jika hampir semuanya memakai celana dengan resleting satu saja? atau berapa yang dapat kita hasilkan dari keramik untuk menghasilkan resistor atau mungkin tahanan yang disesuaikan dengan kasus tertentu?
Ada beberapa kemungkinan yang menjadikan Indonesia mengalami keterlambatan terutama iptek:
  1. Budaya: konsumtif, ketidakterbukaan, eksistensi, pelestarian, pengembangan kembali, meremehkan hal-hal yang kecil dan suka hal-hal yang besar, padahal dari yang kecil inilah bisa terbentuk hal yang lebih besar (tumbuh karena budaya yang selalu mengedepankan materi).
    Tambahan dari artikel Pak Budi:
    • Artikel "Rencana Induk Pengembangan Industri Teknologi Informasi dan Elektronika: Aspek Sumber Daya Manusia" yaitu budaya bahwa gelar lebih penting daripada kemampuan, etos kerja yang kurang dan tidak efisien, komunikasi terutama penguasaan bahasa Inggris, tidak betah/bosan.
    • Artikel "Membangun E-Government" yaitu kurangnya kultur berbagi atau sharing dan kultur dokumentasi

  2. Sistem yang kurang sesuai baik pendidikan, sosial, politik, pembangunan, finansial, dll. Pendidikan kurang diberi perhatian yang cukup dari pemerintah termasuk sarana dan prasarana.

  3. Kurangnya sumber daya manusia yang merata baik secara kualitas maupun kuantitas serta lingkungan yang adaptif, ini berhub. dgn pembangunan yang kurang merata.
Ada kegiatan sosial salah satunya adalah 1001buku, kegiatan ini bagus untuk memberikan akses buku-buku kepada anak-anak dan menambah minat baca serta kreativitas. Terkadang beberapa orang kesulitan dalam mendapatkan akses buku dan harga buku yang mungkin terlalu mahal, dengan adanya kegiatan sosial seperti ini paling nggak bisa memberikan angin segar.
Sedikit komentar yah, bagi para praktisi dan ahli sebaiknya bisa mengembangkan dan menyebarkan ilmunya dengan membuat dokumentasi dan buku, jadi kita tidak hanya sebagai pembaca atau konsumen tapi juga menjadi kontributor dalam daftar sumber daya/informasi yang dimiliki bangsa kita.
Walaupun sudah banyak buku-buku yang dilahirkan dari banyak penulis Indonesia tapi masih ada yang kurang dari segi spesifikasi, tema, dan frekuensi penerbitan buku, selain itu sebagian besar orang masih belum dapat mendokumentasikan segala sesuatu dengan baik termasuk saya hehe.

O iya lagi-lagi saya baca artikel Pak Budi, judulnya "Sang Peneliti", ada beberapa sifat/sikap orang-orang luar negeri yang berharga yaitu obsesi, kerja keras, pantang menyerah, serta dokumentasi.
--
O iya ini ada puisinya senja yang baru:

Pelangi
by senja

Ada segaris pelangi disitu
Sisa usai hujan kemarin
Pelangi, bukan badai yang pandai membuat garis marginal
Tidak pula petir yang bisa memutus lingkaran
Apalagi matahari yang lazim memberi kehidupan
Dia hanya warna-warna
Yang diam-diam muncul di jendela saat tirai terbuka
Bukan seperti bintang yang sinarnya mampu terobos ruang manusia
Dia cuma sekalimat asa
Yang hanya mampu memberi api lilin kecil
Atau mungkin tetes gerimis
Yang tak sampai membuat harumnya tanah
Namun, cuma sanggup bentuk genangan di kolam ikan
Pelangi,
Segaris setengah bundar
Enggan silaukan mata
Pelangi hanya janjikan kesederhanaan
Kesederhanaan yang sahaja

jogja, kamis 30 oktober 2003, pk. 09.00 satu jam menjelang ujian hukum etika pers.
@mY oRiGiNaL cReAtE